matajiwa

pada bisikan itu
adalah alunan
mencuit mata jiwa
menyentak kalbu

“aku jauh di pendalaman.”

“aku sedia mudik ke hilir.”

“aku di ulu sana.”

“aku betah melangkah dan menantimu.”

“aku di ulu, selama mana penantianmu?”

“selama mana engkau mahu.”

“nantiku di hujung kuala. kala hadirku basah dalam keringat, diselaputi debu bebayang lalu dan koma-koma waktu yang tidak pernah bernoktah.”

“aku tunggu.”

“aku akan tua dalam perjalanan. capek dalam waktu. engkau lelah menanti. bosan nanti.”

“kita tua bersama.”

“aku hanya mampu berharap.”

“aku tunggu.”

About chairulfahmy

A writer.
This entry was posted in Jejak Diri. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s