perjalanan ini

(dari Mesir ke Palestina)

I

DIMULAKAN dengan bismillah dan langkah kanan dan ratipan seribu Ya Latiff, seruan ikhlas dari dasar hati buatmu Ya Rabb… sekali mencari yang zahid. Bertawakal pada nur-Mu, Ya Rahman, pencarian ini adalah yang tulus menyedari laluan yang dilalui bukan jalan lurus.

Permulaan ini satu pengabdian, satu!

Dari tapak-tapak kecil di sebuah kota asal pulau, langkah-langkah ini Ya Malik, sebagai menghargai anugerah zat-Mu yang bertemali sejak zaman poyangku.

Ya Kudus… dari setiap helaan nafas ini tidak sekali ada penyesalan. Setiap langkah adalah munajat, paksi keimanan. Sekali ku lontar… gema nama itu adalah laungan buatmu Kekasih… mengisi tiap inci dan sudut ronggadada.

Engkau lebih mengerti, sang Kekasih, bahawa kerinduan ini tidak mampu ku tawan dengan dakapan, hanya penyerahan… tuntas!

Tiba di kota tua, sekali pernah didiami raja-raja, pembawa petaka, mengusik sukma.

Ya Jabbar, kematian bukanlah yang akhir. Ia satu permulaan dan aku di sini menyusuri laluan masa itu, mengenangi azabmu pada Firaun.

Maha suciMu… sekali aku mengimbas keperkasaannya, sekali aku menginsafi keunggulan diKau.

Di lapangan ini aku saksi indahnya ciptaanMu. Di tengah-tengah dada malam Ya Latif, aku menyorot setiap laluan waktu Islamku dan mengerti, Engkau Ya Rahim, adalah kekasih yang kekal dan akulah yang kerap tewas dikucup bibir masa, lemas dibuai leka dakapan waktu hingga mengenepimu, matahatiKu.

Sehari sesudah, diri menyusur Sungai Nil dan tidak sekali aku melupai Musa – penyubur benih kasihMu.

Kesungguhannya menjulang keesaanMu Ya Aziz, mengusik matajiwaku. Memikirkan kesetiaannya, munajatnya di Bukit Sina, mengingini diKau mewajahi zatMu, buat aku terpana dalam mengerti fitrah cintanya.

Hari berlalu dan aku keesokannya ke rumah sakit Palestina, Mesir. Menemui anak-anak itu belasan ujian, dari kampungan Gaza kata mereka, senang menyambut hadirku dengan senyuman yang dibuat-buat – bagi menutupi sendu.

Tanyaku pada mereka, mengapa ini kejadian?

Jawab mereka, kami rata-rata dalam perjalanan pulang pak, bila bom-bom itu gugur dan apinya menyambar. Kami parah sedang yang lain mati terbakar, butiran peluru menembusi lengan dan paha, balas mereka dengan senyuman duka, menyembunyi nestapa.

Aku tidak mampu bersuara.

Ya Razak, perjalanan ini kuteruskan…

II

Aku di Baitulmukaddis. Memula langkah dalam keadaan serba celaru. Ya Ghafur, mengapa sebesar ini ujianmu, apakah Palestina ini yang kekal sehingga akhirnya? Apakah ini hukumnya pada yang tidak sekali mensyukuri kurniaanMu?

Aku terpukul.

Aku menyusur laluan itu dan tiba di perkarangan Al-Aqsa.

Heningnya begitu mencengkam dadajiwa. Ya Hamid, mengapa tidak setenang ini di luar sana? Azan itu, mendayu memanggil ku. Laungannya buat aku terpana. Di lelangit kubah, adalah penangkal keimanan cerminan Izzati.

Allah Maha Besar…
Allah Maha Besar…

Tiada Tuhan Yang Disembah Melainkan Di Kau…

Subhanallah… kekata lahir dari bibir, luahan sanubari.

Aku berdiri dekat tangga di bawah pohon yang lama mendepani Kubah As-Sakra, melihat sekeliling dan diri kerdil ini begitu memahami betapa keheningan di bumi Aqsa adalah mukjizatMu.

Ya Jalil, solat dan sujudku tika itu bukan hanya pengabdian tetapi pengharapan tuntas: Kembalikanlah keamanan di Palestina!

Aku tidak mampu lagi menyaksi gugurnya satu persatu jiwa bangsa.

Cukuplah…

Ya Wahab, aku dambakan keamanan di sini, di bumi ini. Hulurlah kasihMu walau seberkas cuma.

Aku melangkah, menyusuri tiap inci ruang rumahMu, yang seketika meraikan mikraj Rasulullah.

Tuhan… Seandainya di luar sana setenang di sini, tanpa hiruk-pikuk yang bertemali, ia kan begitu mewajahi keihsananMu?

III

Pulangku dan di bumi ini, terasa benar rindu.

Ya Malik, apakah kita kini menjauh setelah Aqsa ku tinggalkan? Atau perasaan itu lahir atas kehilangan yang dirasai?

Terngiang-ngiang di telinga kata-kata itu, diucapkan anak-anak Palestina.

Pak, tempat ini kata ninda, adalah peninggalan poyang yang seharusnya diwarisi.
Tapi kini tidak lagi setelah ia dirampas tanpa ihsan dan pengertian.
Pak, mengapa ini terjadi atas kami?

Ya Khaliq, ku pohon curahkan setitis kasihMu buat mereka.

Aku tidak mampu menangis lagi…

 
Alang Budiman
11 Ogos 2009
20 Syaaban 1430H
Selasa, 21:13:44 mlm

About chairulfahmy

A writer.
This entry was posted in Sajak Alang Budiman and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s