malam ini berlari selari

malam
tidak sekali aku berasa tersisih kala hadirmu
saat siang menjerat waktu
di sela-sela senja tua hilang remangnya
sedang awan itu kali ini berlalu sepi
seakan maklum pawana tidak lagi memuput
lembut
derasnya hilang sudah
ditelan minit-minit waktu
setelah lama disambar panahan cahaya

aku mengintai dari hujung lapangan
yang menjadi dataran si kaki langit
menyaksikan kehilangan yang terserlah

Tuhan
apakah ini tanda wujudmu
di sebalik apa-apa yang tidak kelihatan
atau berdirimu di balik fitrah senja
yang dihiasi pesona bintang dan seri bulan

malam
tiada warna dapat mengikat keperkasaanmu
kecuali siang menodai setiap waktu-waktu itu
dan malam, bukanlah sepi yang acapkali menemani
tapi adalah serakah yang menjadi nadi anak-anak bumi
kita tidak perlu malu
kerana keserakahan itu adalah paksi
yang bertunjangkan semarak nafsu

sekali kita menyusur dada malam
ditemani embun-embun jantan
yang tanpa segannya memperkosa waktu
tanpa mempeduli sunyi
yang hadir setiap kali malam tiba
ditemani nyanyian rindu
diapit pungguk yang setia
mendakap hadir malam tanpa mengisahkan sesiapa

Tuhan
mengapa dikau menghadirkan malam meski ramai masih kesiangan
dibuai mimpi-mimpi yang panjang dan tidak berkesudahan

apakah itu hukumMu
setelah lelah melihat anak-anak itu berketawa
pada muluk-muluk kehidupan sepanjang pinggir jalan
atau yakin debu itu adalah titik-titik
daki-daki yang mencomot wajah mereka
atau hati

Tuhan
ku kira malam dikau menelanjangi yang murba
di kiriku adalah suara-suara zahid
menari jemari pada tasbih zikir
memuji dan mengulangi namaMu ya Malik
tapi di kanan itu adalah suara yang terpisah
tidak sekali mempeduli hadirMu
tidak sekali terfikir berada di sisiMu
itukah yang tersisih
bersama tari yang menyentap ingatan
hingga lupa pentas ini bukan wahid

ini adalah malam
yang diseri kilau-kilau bintang
dan rembulan yang menyinari astaka khayalan
di kanan itu terus bergema keriuhan
saat merangkul keayuan
dada malam yang menggiurkan
sambil membiar detik waktu berlalu
sambil menikmati seribu kenikmatan

Tuhan
inikah jejak-jejak yang tinggal
saat yang zuhud kembali
menjadi tamu Mu di Bentara Indera
yang indahnya adalah satu gambaran
yang tidak pernah terlukis
di bayangan kalbuku

Tuhan
di mana letakduduk ganjaranku
yang sekali ingin daku gapai
bukanlah satu penyesalan
tapi keredhaan dari Mu yang abadi…

Alang Budiman
10 Julai 2006, Isnin

About chairulfahmy

A writer.
This entry was posted in Sajak Alang Budiman. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s